Sejarah Desa Bebatu

A. SEJARAH DESA BEBATU

    Kata Bebatu diambil dari bahasa Suku Tidung yang artinya batu. Penamaan Bebatu menjadi nama desa ini memiliki beberapa versi cerita. Beberapa Tokoh desa menyebutkan Nama “Bebatu” berasal dari adanya peristiwa nelayan yang sedang melakukan aktivitas menjala ikan yang terhalang dengan banyak bebatuan di sepanjang sungai diwilayah ini. Versi lain menyebutkan nama “Bebatu” diambil dari peristiwa karam (kandas) nya sebuah kapal nelayan di atas batu di pinggiran sungai. Ada pula yang menyebutkan bahwa nama Bebatu diambil dari nama pohon batu-batu yang banyak terdapat diwilayah ini. Beberapa tokoh masyarakat Desa Bebatu beranggapan bahwa peristiwa nelayan mengalami jala yang tersangkut oleh batu dan karamnya kapal mereka bersamaan dengan ditemukannya pohon batu-batu oleh masyarakat yang berladang. 
    Menurut cerita rakyat dari masyarakat suku Tidung sebagai penduduk asli yang menempati desa Bebatu sejak puluhan tahun lalu, mengatakan bahwa sebelum menduduki Bebatu sebagai wilayah pemukiman penduduk seperti pada saat ini, kaum nelayan dari kerajaan suku Tidung menjadikan pulau Tarakan yaitu sebuah pulau yang terletak di muara sungai Sesayap tidak jauh dari Bebatu sebagai tempat persinggahan sehabis mengail ikan dan udang dan menjadikan pulau tersebut sebagai tempat barter barang-barang keperluan hidup. Namun semenjak masuknya perusahan minyak milik Belanda dan Inggris bergabung menjadi satu untuk mengeksploitasi hasil bumi sehingga terjadi perang pasifik atau perang dunia ke II yang meletus pada sekitar akhir tahun 1941 yang dilancarkan oleh pihak militer Jepang, namun sebelum Jepang mendarat, Belanda sudah memperkirakan ketidak mampuan nya menghadapi serangan Jepang. Oleh sebab itu pemerintah Belanda me-lakukan taktik bumi hangus terhadap semua fasilitas kilang agar pihak Jepang tidak dapat memanfaatkannya, namun dengan adanya taktik bumi hangus tersebut membuat penduduk Tarakan yang sebagian besar adalah suku Tidung terpaksa mengungsi kedaerah-daerah pedalaman yang antara lain adalah seperti Sekatak, Malinau dan hingga Bebatu.
    Masyarakat suku Tidung mulai menduduki Bebatu sekitar kurang lebih pada tahun 1937 yang pada awalnya merupakan sebuah wilayah pengungsian mereka dalam menghindari penjajahan Belanda dan Inggris yang menguasai sebagian besar wilayah Tarakan, namun pada tahun 1942 masyarakat suku Tidung asal Tarakan kembali mengungsi untuk menghindari pertempuran sengit Belanda dan Jepang, terutama untuk menyelamatkan anak-anak serta kaum wanita mereka, namun hingga beberapa masa berlalu wilayah tersebut menjadi sebuah pemukiman atau perkampungan permanen dengan penduduk yang semakin berkembang dari anak keluarga mereka sendiri (turun-temurun atau keturuan) yang pada masa itu, merupkan wilayah yang dipimpin oleh pemerintahan Kabupaten Bulungan yang mencakup seluruh wilayah di Kalimantan Utara. Bebatu pada masa itu dipimpin oleh kepala desa pertama yang dahulu disebut dengan sebutan pembakal dan sekarang disebut sebagai kepala desa yaitu Aji Iskandar yang dipilih secara aklamasi dan menjabat selama 4 tahun hingga pertengahan tahun 1946.

B. CIKAL BAKAL DESA BEBATU

    Menurut cerita rakyat dari masyarakat suku Tidung sebagai penduduk asli yang menempati desa Bebatu sejak puluhan tahun lalu, mengatakan bahwa sebelum menduduki Bebatu sebagai wilayah pemukiman penduduk seperti pada saat ini, kaum nelayan dari kerajaan suku Tidung menjadikan pulau Tarakan yaitu sebuah pulau yang terletak di muara sungai Sesayap tidak jauh dari Bebatu sebagai tempat persinggahan sehabis mengail ikan dan udang dan menjadikan pulau tersebut sebagai tempat barter barang-barang keperluan hidup. Namun semenjak masuknya perusahan minyak milik Belanda dan Inggris bergabung menjadi satu untuk mengeksploitasi hasil bumi sehingga terjadi perang pasifik atau perang dunia ke II yang meletus pada sekitar akhir tahun 1941 yang dilancarkan oleh pihak militer Jepang, namun sebelum Jepang mendarat, Belanda sudah memperkirakan ketidak mampuan nya menghadapi serangan Jepang. Oleh sebab itu pemerintah Belanda me-lakukan taktik bumi hangus terhadap semua fasilitas kilang agar pihak Jepang tidak dapat memanfaatkannya, namun dengan adanya taktik bumi hangus tersebut membuat penduduk Tarakan yang sebagian besar adalah suku Tidung terpaksa mengungsi kedaerah-daerah pedalaman yang antara lain adalah seperti Sekatak, Malinau dan hingga Bebatu.
    Masyarakat suku Tidung mulai menduduki Bebatu sekitar kurang lebih pada tahun 1937 yang pada awalnya merupakan sebuah wilayah pengungsian mereka dalam menghindari penjajahan Belanda dan Inggris yang menguasai sebagian besar wilayah Tarakan, namun pada tahun 1942 masyarakat suku Tidung asal Tarakan kembali mengungsi untuk menghindari pertempuran sengit Belanda dan Jepang, terutama untuk menyelamatkan anak-anak serta kaum wanita mereka, namun hingga beberapa masa berlalu wilayah tersebut menjadi sebuah pemukiman atau perkampungan permanen dengan penduduk yang semakin berkembang dari anak keluarga mereka sendiri (turun-temurun atau keturuan) yang pada masa itu, merupkan wilayah yang dipimpin oleh pemerintahan Kabupaten Bulungan yang mencakup seluruh wilayah di Kalimantan Utara. Bebatu pada masa itu dipimpin oleh kepala desa pertama yang dahulu disebut dengan sebutan pembakal dan sekarang disebut sebagai kepala desa yaitu Aji Iskandar yang dipilih secara aklamasi dan menjabat selama 4 tahun hingga pertengahan tahun 1946.

C. ERA KEMERDEKAAN

    Dalam memasuki pertengahan bulan Agustus tahun 1945 pihak Jepang pun terpaksa menyerah dan seluruh wilayah dinyatakan aman termasuk pulau Tarakan sehingga masyarakat pengungsian sudah dapat kembali kepulau tersebut. Namun hanya sedikit dari mereka yang kembali ke pulau tersebut, karena sebagian besar dari mereka lebih memilih untuk menetap di Bebatu bersama anak keluarga mereka dengan menggantungkan kehidupan mereka melalui bercocok tanam dan nelayan, karena pada masa itu, hanya dengan mengandalkan hasil dari bercocok tanam, berkebun singkong, bertanam kelapa, sagu dan lain sebagainya. Berladang padi dibelakang rumah bahkan disamping rumah mereka, maupun dengan mengandalkan hasil-hasil laut atau sungai dengan hanya membentangkan alat tangkap ikan dan udang yang sangat tradisional buatan mereka, masyarakat tersebut sudah mampu mendapatkan hasil yang melimpah luah sehingga pada akhirnya mereka menjadikan hal demikian sebagai sumber pendapatan untuk kelangsungan hidup keluarga mereka hingga turun temurun dan dari masa ke masa berikutnya.
    Pada pertengahan tahun 1946 lepas dari kepemimpinan Aji Iskandar, Bebatu dipimpin oleh Dahlan sebagai pembakal ke-II yang menjabat selama satu periode hingga berakhir pada pertengahan tahun 1951 dan selanjutnya dipimpin oleh Ali sebagai pembakal ke-III, yang menjabat selama kurang lebih 7 tahun hingga memasuki tahun 1959. Pada tahun yang sama hingga tahun 1967 Bebatu dipimpin oleh M. Haris Fadila sebagai pembakal ke-IV, kemudian di lanjut oleh Ali Sundi selama 2 periode hingga akhir tahun 1978. Namun lepas masa kepemimpinan Ali Sundi sebagai pembakal ke-V pada tahun 1978 kemudian Bebatu dipimpin oleh Jumadil selama 2 periode lebih hingga pada tahun 1990 sebagai kepala kampung ke-VI.

D. PEMBANGUNAN

    Sepanjang tahun 1980-an hingga tahun 1990-an jumlah penduduk Bebatu mengalami peningkatan pesat, bangunan fisik rumah panggung milik masyarakat setempat sudah tampak berdiri kokoh saling berhadapan didepan jalan. Pembangunan Sekolah Dasar baru yang didirikan pada tahun 1982 telah berdiri menantang didepan lapangan sepak bola Datu langkat yang terletak starategis ditengah Bebatu (Sekarang Sekolah Dasar telah pindah dan Lapangan sepak bola Datu Langkat sudah digunakan sebagai jalan umum).
    Pembangunan sarana ibadah yang baru, perkantoran pemerintahan serta pembangunan semenisasi disepanjang Bebatu pada tahun 1997 dan lain sebgainya oleh pemerintah Kabupaten Bulungan. Pada masa itu Bebatu sudah memiliki 3 wilayah rukun tetangga (RT). Namun pada masa sekitar pertengahan tahun 1978 wilayah rukun tetangga 3 yang biasa disebut dengan nama Batu kebun atau Bebatu kebun oleh warga setempat (tempat berkebun, tekstur tanah pegunungan, cocok untuk perkebunan) di tempatkan sebagai pusat pemerintahan desa Bandan Bikis untuk sementara waktu, karena mengingat pada masa itu penduduk desa tersebut secara perlahan meninggalkan desa mereka hingga tidak menyisakan penduduk barang satupun disana dan status wilayah rukun tetangga 003 pada saat itu hanya dipinjamkan untuk menjalankan roda pemerintahan mereka. Pada saat itu Bebatu dipimpin oleh Ashari ibrahim sebagai kepala kampung ke VII pada tahun 1990 hingga akhir tahun 1997 dan pada akhir tahun tersebut itu pula terpilih Udin S sebagai kepala desa yang ke-VIII melalui pemilihan langsung Kepala Desa (Pilkades) yang dilaksanakan pertama kali oleh masyarakat Bebatu dan dilantik bersama seluruh kepala desa terpilih se-kecamatan Sesayap dan Sekatak di Bebatu oleh bupati Bulungan RA Bessing pada 1 Januari 1999.
    Lepas masa kepemimpinan Uddin S yang menjabat selama 2 periode hingga tahun 2008 maka selanjutnya terpilih Ilham Maulana sebagai kepala desa ke-IX yang dipilih secara langsung oleh masyarakat Bebatu pada Pemilihan kepala desa tyang deselenggarakan pada tahun 2008 lalu dan menjabat hingga tahun 2014.
    Pada September 2014 lalu dilaksanakan pemilihan Kepala Desa Bebatu secara langsung untuk yang kedua kalinya, dan melalui pemilihan itu maka terpilihlah Ilham Maulana untuk menjabat lagi yang kedua kalinya sebagai kepala desa yang ke -X dan menjabat hingga tahun 2021. Setelah berakhir masa jabatan kades ilham maulana, tahun 2021 dilakukan pemilihan kepala desa untuk perioede 2021-2027, melalui pemilihan tersebut terpilihlah Mahmuda untuk kepala desa berikutnya hingga sekarang.



E. ERA KRISIS EKONOMI MONETER

    Pada pertengahan tahun 1997 terjadi krisis ekonomi moneter dan nilai tukar rupiah melemah yang berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat secara menyeluruh tidak terkecuali pada masyarakat Bebatu, sehingga pada masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup mereka sebagai nelayan dan petani tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka, namun hal tersebut tidak sampai membuat masyarakat terpuruk hingga bertahun tahun lamanya. 
    Seiring dengan kondisi politik di Indonesia yang mulai stabil pada masa reformasi, kurang lebih pada tahun 1998 sehingga masa surampun dapat terlewati.

F. Cakrawala Perubahan

    Bebatu memang kaya akan sumberdaya alam, dengan karakteristik lahan yang sebagian berbukit menyimpan potensi alam yang cukup baik untuk dikelola antara lain seperti Batubara, Migas dan lain-lainnya.
    Pada masa pertengahan tahun 2005 sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan melirik potensi kualitas sumber daya alam khususnya batubara dan migas yang ada di Bebatu dan sehingga beberapa waktu berikutnya perusahaan tersebut dapat beroprasi untuk meng-eksploitasi hasil bumi baik itu berupa Batu bara maupun Migas yang terdapat diwilayah Bebatu tersebut. Dengan adanya beberapa perusahaan swasta tersebut telah membuka cakrawala perubahan yang sangat besar terhadap masyarakat setempat, lapangan kerjapun terbuka lebar untuk mereka dan masyarakatpun berlomba menjadi bagian dari pekerja atau karyawan disana agar tetap dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarga mereka, namun keberadaan perusahaan tersebut tidak sepenuhnya menjamin kesejahteraan masyarakat desa setempat.
    Seiring dengan perkembangan kebijakan pemerintah maka dengan adanya pemekaran kabupaten yakni kabupaten Tana Tidung dari kabupaten Bulungan pada pertengahan tahun 2007 lalu telah membawa perubahan besar pada perkembangan wilayah dan penduduk termasuk di Bebatu sendiri, berbagai kegiatan pembangunan baik yang bersumber dari bantuan pemerintah pusat, pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah dapat direalisasikan di Bebatu.



Sumber : RPJMDes Desa Bebatu 2022-2027

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kondisi Geografis Desa Bebatu

Halaman Pengaduan